Berhubungan seks tanpa kondom ternyata lebih baik untuk kesehatan dibandingkan berhubungan seks dengan menggunakan kondom.
Seorang psikolog dari Universitas West of Skotlandia, Stuart Brody mengatakan, berhubungan seks tanpa kondom dapat meningkatkan kesehatan mental laki-laki dan perempuan. “Sebaliknya, melakukan seks dengan kondom dapat membuat tekanan dan depresi.”
Pernyataan ini seolah membantah anggapan, bahwa berhubungan seks tanpa kondom dapat berbahaya bagi kesehatan karena dikhawatirkan penularan penyakit serta terjadi kehamilan.
Professor Brody mengatakan, bahwa tubuh manusia sudah secara alami diprogram untuk mendapatkan perlindungan dalam melakukan hubungan seksual. Menurutnya, hal ini dibuktikan dengan melakukan kajian terhadap 99 perempuan dan 11 laki-laki di Portugal.
“Mereka diminta untuk mengisi kuesioner dengan pertanyaan tentang kenikmatan yang mereka dapatkan dari hubungan seksual menggunakan kontrasepsi,” tuturnya.
Dari penelitian ini, Brody menjelaskan pasangan yang melakukan hubungan seks tanpa alat kontrasepsi tekanan psikologis dan tingkat stressnya lebih rendah dibandingkan dengan pasangan yang menggunakan alat kontrasepsi yaitu kondom.
Sementara itu, peneliti dari Marie Stope International, Tony Kerridge menuturkan, kesehatan reproduksi dan seksual dapat diuji setelah pasangan melakukan hubungan seksual, tidak menimbulkan penyakit yang tidak diinginkan dan tidak terjadi kehamilan.
sumber : www.perempuan.com
Kamis, 19 November 2009
Cara Mudah Mengenali Makanan & Minuman Berbahaya
Makanan dan minuman menjadi pilihan wajib bagi siapa pun untuk menjaga kesehatan sekaligus meneruskan keberlangusngan hidupnya. Namun, makanan dan minuman yang diolah secara tidak benar justru dapat menjadi pembunuh nomor wahid lantaran mengandung zat racun bagi tubuh.
Hal itulah yang mengilhami peneliti Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) melakukan penelitian dan akhirnya mempublikasikan dalam “Expo Karya Wima (Widya Mandala)” di kampus setempat pada 21-22 September 2008.
“Tips mengenali makanan dan minuman yang berbahaya dan yang aman itu penting pada masa-masa menjelang Lebaran,” kata peneliti UKWMS, Caroline SSi MSi Apt.
Dalam percakapannya dengan ANTARA News di Surabaya, ia menyampaikan metode pengenalan paling mudah dari berbagai sudut yakni warna, kandungan boraks, kandungan formalin, daging gelonggongan, ayam basi, ikan basi, makanan kaleng, bahaya snack, dan bahaya kemasan plastik.
“Kalau ada makanan yang warnanya mencolok dan menarik justru harus dicurigai, misalnya saos yang warnanya membekas di tangan memungkinkan pewarna yang digunakan adalah pewarna tekstil yang dapat menyebabkan kanker,” katanya.
Untuk boraks, katanya, dapat diamati dari bakso. “Kalau kenyal atau mudah dipantulkan seperti memantulkan bola karet di tanah, maka berarti banyak mengandung boraks. Bisa juga dari tanda-tanda gigitan yang kembali ke bentuk semula setelah digigit,” katanya.
Sebaliknya, katanya, tahu putih yang terlalu keras justru patut diduga mengandung formalin. “Kalau tahu kuning yang keras, kami belum melakukan penelitian, tapi kalau tahu putih yang tidak lembek dapat diduga ada kandungan formalin di dalamnya,” ucapnya.
Tentang daging gelonggong (daging yang diisi air), dosen Fakultas Farmasi (FF) UKWMS itu mengatakan daging seperti itu dapat dikenali dari air yang menetes bila digantung.
“Jadi, pilih saja daging yang digantung. Kalau ada air yang menetes berarti daging gelonggongan. Cara lain mengenali dari warna daging yang asli masih merah segar dan serat-serat di dalam daging juga tidak menggelembung,” katanya.
Harga yang tidak wajar juga merupakan pertanda. “Harga daging yang wajar itu Rp46 ribu perkilogram, nah kalau harganya lebih murah dari itu berarti patut dicurigai sebagai daging gelonggongan,” ungkapnya.
Kalau daging ayam, bagaimana cara mengenali daging dari ayam yang mati?
“Daging ayam yang masih segar itu berwarna agak kekuning-kuningan, kalau warnanya putih bersih justru dimungkinkan dari bekas ayam mati, apalagi kalau ada warna biru seperti bekas memar serta bau sangat amis,” katanya.
Bahkan, katanya, ada pula daging ayam yang direndam formalin agar awet. “Kita dapat mengenali daging ayam berformalin dengan menekan atau mendorongnya dengan jari telunjuk. Kalau keluar lendir atau air berarti pernah direndam dengan formalin,” katanya.
Namun, katanya, formalin dalam makanan juga dapat dihilangkan. “Caranya, makanan yang mencurigakan itu direndam dengan air panas sekitar 30 menit atau dipanaskan dengan oven bersuhu 121 derajat tiga menit. Kalau ikan dapat direndam dengan air cuka 5 persen selama 15 menit atau direndam air garam selama 30 menit untuk ikan asin,” katanya.
Lain halnya cara mengenali ikan basi. “Kalau ditekan justru lembek, warna insang tampak merah tua, atau mata ikan justru terlihat bening, maka cirinya ikan itu basi atau diberi formalin. Paling mudah ya beli saja ikan yang masih ada tanda-tanda hidup,” katanya.
Caroline juga menyarankan agar masyarakat jangan membeli makanan kaleng yang kemasan kalengnya sudah penyok.
“Kaleng yang penyok akan mengubah konsentrasi di dalam kemasan, karena kaleng penyok dapat mengandung racun akibat adanya kandungan botulimun (bahan dasar kosmetik). Kalau mau aman ya dipanaskan seperti ikan atau dibakar agar racunnya mati. Biasanya, supermarket justru memberi diskon,” katanya.
Untuk snack (makanan ringan) yang banyak disukai anak-anak, katanya, justru perlu dilihat komposisi zat warna-nya dan nomor registrasi. “Kalau warna-warnanya mencolok atau tanggal produk-nya kadaluarsa justru berbahaya,” katanya.
Satu lagi bahaya yang sering tak disadari adalah kemasan dari plastik, styrofoam, dan melamin. “Kalau kemasan itu diisi dengan bakso panas, soto panas, teh panas, dan makanan atau minuman serba panas akan dapat menyebabkan kanker,” katanya. (*)
Oleh Edy M. Ya`kub
sumber: antara.co.id
Hal itulah yang mengilhami peneliti Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) melakukan penelitian dan akhirnya mempublikasikan dalam “Expo Karya Wima (Widya Mandala)” di kampus setempat pada 21-22 September 2008.
“Tips mengenali makanan dan minuman yang berbahaya dan yang aman itu penting pada masa-masa menjelang Lebaran,” kata peneliti UKWMS, Caroline SSi MSi Apt.
Dalam percakapannya dengan ANTARA News di Surabaya, ia menyampaikan metode pengenalan paling mudah dari berbagai sudut yakni warna, kandungan boraks, kandungan formalin, daging gelonggongan, ayam basi, ikan basi, makanan kaleng, bahaya snack, dan bahaya kemasan plastik.
“Kalau ada makanan yang warnanya mencolok dan menarik justru harus dicurigai, misalnya saos yang warnanya membekas di tangan memungkinkan pewarna yang digunakan adalah pewarna tekstil yang dapat menyebabkan kanker,” katanya.
Untuk boraks, katanya, dapat diamati dari bakso. “Kalau kenyal atau mudah dipantulkan seperti memantulkan bola karet di tanah, maka berarti banyak mengandung boraks. Bisa juga dari tanda-tanda gigitan yang kembali ke bentuk semula setelah digigit,” katanya.
Sebaliknya, katanya, tahu putih yang terlalu keras justru patut diduga mengandung formalin. “Kalau tahu kuning yang keras, kami belum melakukan penelitian, tapi kalau tahu putih yang tidak lembek dapat diduga ada kandungan formalin di dalamnya,” ucapnya.
Tentang daging gelonggong (daging yang diisi air), dosen Fakultas Farmasi (FF) UKWMS itu mengatakan daging seperti itu dapat dikenali dari air yang menetes bila digantung.
“Jadi, pilih saja daging yang digantung. Kalau ada air yang menetes berarti daging gelonggongan. Cara lain mengenali dari warna daging yang asli masih merah segar dan serat-serat di dalam daging juga tidak menggelembung,” katanya.
Harga yang tidak wajar juga merupakan pertanda. “Harga daging yang wajar itu Rp46 ribu perkilogram, nah kalau harganya lebih murah dari itu berarti patut dicurigai sebagai daging gelonggongan,” ungkapnya.
Kalau daging ayam, bagaimana cara mengenali daging dari ayam yang mati?
“Daging ayam yang masih segar itu berwarna agak kekuning-kuningan, kalau warnanya putih bersih justru dimungkinkan dari bekas ayam mati, apalagi kalau ada warna biru seperti bekas memar serta bau sangat amis,” katanya.
Bahkan, katanya, ada pula daging ayam yang direndam formalin agar awet. “Kita dapat mengenali daging ayam berformalin dengan menekan atau mendorongnya dengan jari telunjuk. Kalau keluar lendir atau air berarti pernah direndam dengan formalin,” katanya.
Namun, katanya, formalin dalam makanan juga dapat dihilangkan. “Caranya, makanan yang mencurigakan itu direndam dengan air panas sekitar 30 menit atau dipanaskan dengan oven bersuhu 121 derajat tiga menit. Kalau ikan dapat direndam dengan air cuka 5 persen selama 15 menit atau direndam air garam selama 30 menit untuk ikan asin,” katanya.
Lain halnya cara mengenali ikan basi. “Kalau ditekan justru lembek, warna insang tampak merah tua, atau mata ikan justru terlihat bening, maka cirinya ikan itu basi atau diberi formalin. Paling mudah ya beli saja ikan yang masih ada tanda-tanda hidup,” katanya.
Caroline juga menyarankan agar masyarakat jangan membeli makanan kaleng yang kemasan kalengnya sudah penyok.
“Kaleng yang penyok akan mengubah konsentrasi di dalam kemasan, karena kaleng penyok dapat mengandung racun akibat adanya kandungan botulimun (bahan dasar kosmetik). Kalau mau aman ya dipanaskan seperti ikan atau dibakar agar racunnya mati. Biasanya, supermarket justru memberi diskon,” katanya.
Untuk snack (makanan ringan) yang banyak disukai anak-anak, katanya, justru perlu dilihat komposisi zat warna-nya dan nomor registrasi. “Kalau warna-warnanya mencolok atau tanggal produk-nya kadaluarsa justru berbahaya,” katanya.
Satu lagi bahaya yang sering tak disadari adalah kemasan dari plastik, styrofoam, dan melamin. “Kalau kemasan itu diisi dengan bakso panas, soto panas, teh panas, dan makanan atau minuman serba panas akan dapat menyebabkan kanker,” katanya. (*)
Oleh Edy M. Ya`kub
sumber: antara.co.id
Telah Ditemukan, Gen Untuk Membuat Anda Panjang Umur
Sebuah gen yang dapat membuat Anda berumur panjang hingga 100 tahun telah diidentifikasi oleh ahli para ilmuwan di Amerika Serikat. Penemuan yang telah diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini, disebut-sebut dapat menjadi sebuah terobosan baru dalam memproduksi obat antipenuaan.
Tim peneliti dari Albert Einstein College of Medicine, New York, melakukan riset terhadap sebuah komunitas masyarakat Yahudi Ashkenazi di Amerika Serikat, yang memiliki usia rata-rata 97 tahun. Dari hasil penelitian, mereka menemukan bahwa ternyata para responden memiliki gen menurun yang muncul untuk mencegah sel-sel penuaan.
Penelitian menunjukan bahwa 86 orangtua yang diteliti beserta anak-anak mereka, memiliki sebuah enzim yang disebut telomerase dengan tingkat yang sangat tinggi. Enzim ini berfungsi untuk melindungi DNA pada tubuh. Mereka yang berusia di atas 90 tahun dan keturunannya umumnya memiliki telomerase yang lebih tinggi dan secara signifikan membuat mereka lebih berumur panjang.
Telomerase diketahui merupakan bagian khusus dari DNA yang duduk di ujung kromosom, seperti layaknya selubung plastik di ujung tali sepatu untuk mencegah serabut anyaman tali terurai. Setiap kali sebuah sel terbagi, maka telomerase akan memperpendek dan menjadi lebih rentan untuk kematian.
Dengan menaikkan tingkat telomerase, para peneliti berpikir mereka dapat dengan cepat menghadang sel kematian dan melawan proses penuaan.
sumber : conectique.com
Tim peneliti dari Albert Einstein College of Medicine, New York, melakukan riset terhadap sebuah komunitas masyarakat Yahudi Ashkenazi di Amerika Serikat, yang memiliki usia rata-rata 97 tahun. Dari hasil penelitian, mereka menemukan bahwa ternyata para responden memiliki gen menurun yang muncul untuk mencegah sel-sel penuaan.
Penelitian menunjukan bahwa 86 orangtua yang diteliti beserta anak-anak mereka, memiliki sebuah enzim yang disebut telomerase dengan tingkat yang sangat tinggi. Enzim ini berfungsi untuk melindungi DNA pada tubuh. Mereka yang berusia di atas 90 tahun dan keturunannya umumnya memiliki telomerase yang lebih tinggi dan secara signifikan membuat mereka lebih berumur panjang.
Telomerase diketahui merupakan bagian khusus dari DNA yang duduk di ujung kromosom, seperti layaknya selubung plastik di ujung tali sepatu untuk mencegah serabut anyaman tali terurai. Setiap kali sebuah sel terbagi, maka telomerase akan memperpendek dan menjadi lebih rentan untuk kematian.
Dengan menaikkan tingkat telomerase, para peneliti berpikir mereka dapat dengan cepat menghadang sel kematian dan melawan proses penuaan.
sumber : conectique.com
Olahraga Saat Panas Bisa Kurangi Nafsu Makan

OLAHRAGAWAN yang hendak mengurangi konsumsi kalori disarankan berolahraga di bawah terik matahari dan bukan di ruang olahraga yang dikendalikan cuaca.
Sebuah percobaan yang dilakukan kepada 11 pria aktif membuktikan, semua pria itu makan lebih sedikit segera setelah melakukan olahraga berlari dalam kondisi panas --sekitar 36 derajat Celsius-- dibandingkan dengan pada cuaca yang lebih sedang, 25 derajat Celsius.
Rata-rata, semua pria tersebut menyantap 300 kalori lebih banyak ketika mereka berolahraga pada temperatur sedang dibandingkan ketika mereka melakukannya saat udara panas.
"Temuan kami menunjukkan bahwa jika anda berolahraga di lingkungan yang lebih hangat, anda akan makan lebih sedikit saat menghadapi hidangan sesudah itu," kata peneliti Dr. Kym Guelfi, dari School of Sports Sciences di University of Wetern Australia, kepada Reuters Health.
Secara teori, ia mengatakan, itu akan menjadi strategi bagus bagi olahragawan yang berusaha menurunkan berat badan.
Namun, Guelfi menambahkan kajian pada masa depan mesti meneliti apakah olahragawan pada cuaca hangat hanya mengimbangi makanan yang lebih sedikit dengan santapan yang lebih banyak belakangan.
Untuk kajian itu, yang disiarkan di dalam American Journal of Clinical Nutrition, para peneliti tersebut meminta 11 pemuda yang aktif secara rutin melakukan kunjungan beberapa kali ke laboratorium olahraga.
Selama satu kunjungan, semua pria itu berlari di "treadmill" selama 40 menit di bawah temperatur 36 derajat Celsius; pada kunjungan lain, mereka melakukan kegiatan yang sama dengan temperatur 25 derajat Celsius. Pada kunjungan ketiga, mereka beristirahat di ruang yang cukup hangat.
Pada semua ketiga keadaan, pria tersebut kemudian disuguhi sarapan pilih sesukanya dan didapati memakan sebagian besar hidangan setelah berolahraga dalam kondisi sedang.
Studi tersebut juga menemukan kaitan mengenai mengapa berolahraga di bawah cuaca panas mungkin mengurangi nafsu makan. Setelah berolahraga saat panas, semua pria tersebut secara khusus memperlihatkan tingkat tekanan darah yang lebih tinggi, "peptide YY", satu hormon yang dihasilkan di saluran usus yang menjadi penanda "penuh".
Nafsu makan lebih kecil semua pria itu juga tampaknya berkaitan dengan peningkatan temperatur inti tubuh yang muncul bersamaan dengan berolahraga dalam cuaca panas.
Alasan bagi semua ini tidak jelas, tapi Guelfi menyatakan beberapa peneliti percaya bahwa, karena makan menghasilkan panas pada tubuh, asupan makanan adalah salah satu mekanisme alamiah manusia untuk mengendalikan temperatur tubuh "Ini adalah studi mengapa, secara anekdot, lingkungan yang dingin telah dikatakan mengarah kepada peningkatan nafsu makan," katanya.
Tetapi meskipun lingkungan yang lebih hangat mungkin membantu mencegah nafsu makan pasca-olahraga, Guelfi memperingatkan orang agar tak menerima gagasan itu secara ekstrem. "OLahraga tak boleh dilakukan di lingkungan yang sangat panas akibat resiko dehidrasi dan penyakit sengatan panas," katanya.(ANT)
Tiga Juta Perokok Aktif Menjadi Penyebar Penyakit Kanker
JAKARTA - Merokok tampaknya masih biasa dilakukan di tempat umum di Jakarta. Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI, Minggu (15/11), mencatat, ada sekitar 3 juta perokok aktif di Ibu Kota. Mereka berpotensi mengidap kanker ganas dan memicu penyakit serupa tumbuh pada orang-orang di dekatnya.
"Perokok di Jakarta masih melakukan hobinya di angkutan umum, tempat belajar, hingga tempat ibadah. Belum ada kesadaran bahwa kebiasaan dan asap yang dikeluarkannya membahayakan dirinya dan orang lain. Kesadaran ini yang mesti ditanamkan," kata Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Sanitasi Lingkungan BPLHD DKI Joni Tagor, Minggu di Kota Tua, Jakarta Barat.
Keprihatinan atas aktivitas merokok yang membudaya di masyarakat berusaha terus diperangi dengan berbagai kampanye antirokok. Pada Minggu, kampanye antirokok dilakukan seiring dengan pelaksanaan hari bebas kendaraan bermotor tingkat kota yang diselenggarakan di kawasan Kota Tua, Jakbar.
Kampanye antirokok ini hasil kerja sama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Kota Jakarta Barat, serta sukarelawan dari Badan Layanan Umum Transjakarta, Universitas Trisakti, Wanita Indonesia Tanpa Tembakau, Muhammadiyah, Organda, pengelola terminal bus se-Jakarta, dan anggota pramuka.
"Ini bagian dari program smoke free Jakarta dari BPLHD. Poster berbagai ukuran dan stiker larangan merokok sudah disebarkan untuk mengurangi efek negatif rokok," ujar Joni.
Meilani (28), salah satu peserta kampanye antirokok, menyatakan amat bersemangat ikut kegiatan ini. "Saya dulu perokok, tetapi berhenti total setelah hamil dan melahirkan. Saya juga ngeri dengan pengalaman seorang teman. Bayangkan, suami teman itu tidak pernah merokok, tetapi bergaul dengan perokok di tempat kerjanya. Sekarang dia mengidap kanker paru stadium 3, dan kata dokter, salah satu penyebab utamanya adalah asap rokok. Kasihan, kan?" katanya.
Sesuai aturan Peraturan Daerah Pengendalian Polusi Udara Nomor 2 Tahun 2005, merokok dilarang dilakukan di fasilitas sosial dan fasilitas publik, termasuk kendaraan umum. Mulai dari sopir, kondektur, sampai penumpang yang melanggar bisa dihukum penjara hingga enam bulan dan denda maksimal Rp 50 juta.
Saat ini di Jakarta ada sedikitnya 1,4 juta angkutan umum yang melayani mobilitas masyarakat. Namun, hanya taksi dan bus transjakarta yang relatif aman dari asap rokok. Untuk itu, kampanye bebas rokok di kendaraan umum terus dilakukan.
Beberapa pengguna angkutan umum meminta pemerintah tidak cuma kampanye. "Terapkan hukumannya. Kampanye tidak berpengaruh. Itu lihat, sopirnya langsung nge-rokok lagi, kan?" kata Rahmawati, wisatawan di Museum Bank Mandiri.
Senada dengan Rahmawati, Tulus Abadi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menilai, pemerintah tidak konsisten menerapkan larangan merokok.
"Lihat saja di kantor pemerintahan, karyawannya banyak yang merokok sembarangan. Ruang khusus merokok dibiarkan menganggur. Konsisten ke dalam dulu, lalu ke masyarakat, dan terapkan sanksi. Mungkin baru ada hasilnya," kata Tulus. (NEL/kompas.com)
"Perokok di Jakarta masih melakukan hobinya di angkutan umum, tempat belajar, hingga tempat ibadah. Belum ada kesadaran bahwa kebiasaan dan asap yang dikeluarkannya membahayakan dirinya dan orang lain. Kesadaran ini yang mesti ditanamkan," kata Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Sanitasi Lingkungan BPLHD DKI Joni Tagor, Minggu di Kota Tua, Jakarta Barat.
Keprihatinan atas aktivitas merokok yang membudaya di masyarakat berusaha terus diperangi dengan berbagai kampanye antirokok. Pada Minggu, kampanye antirokok dilakukan seiring dengan pelaksanaan hari bebas kendaraan bermotor tingkat kota yang diselenggarakan di kawasan Kota Tua, Jakbar.
Kampanye antirokok ini hasil kerja sama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Kota Jakarta Barat, serta sukarelawan dari Badan Layanan Umum Transjakarta, Universitas Trisakti, Wanita Indonesia Tanpa Tembakau, Muhammadiyah, Organda, pengelola terminal bus se-Jakarta, dan anggota pramuka.
"Ini bagian dari program smoke free Jakarta dari BPLHD. Poster berbagai ukuran dan stiker larangan merokok sudah disebarkan untuk mengurangi efek negatif rokok," ujar Joni.
Meilani (28), salah satu peserta kampanye antirokok, menyatakan amat bersemangat ikut kegiatan ini. "Saya dulu perokok, tetapi berhenti total setelah hamil dan melahirkan. Saya juga ngeri dengan pengalaman seorang teman. Bayangkan, suami teman itu tidak pernah merokok, tetapi bergaul dengan perokok di tempat kerjanya. Sekarang dia mengidap kanker paru stadium 3, dan kata dokter, salah satu penyebab utamanya adalah asap rokok. Kasihan, kan?" katanya.
Sesuai aturan Peraturan Daerah Pengendalian Polusi Udara Nomor 2 Tahun 2005, merokok dilarang dilakukan di fasilitas sosial dan fasilitas publik, termasuk kendaraan umum. Mulai dari sopir, kondektur, sampai penumpang yang melanggar bisa dihukum penjara hingga enam bulan dan denda maksimal Rp 50 juta.
Saat ini di Jakarta ada sedikitnya 1,4 juta angkutan umum yang melayani mobilitas masyarakat. Namun, hanya taksi dan bus transjakarta yang relatif aman dari asap rokok. Untuk itu, kampanye bebas rokok di kendaraan umum terus dilakukan.
Beberapa pengguna angkutan umum meminta pemerintah tidak cuma kampanye. "Terapkan hukumannya. Kampanye tidak berpengaruh. Itu lihat, sopirnya langsung nge-rokok lagi, kan?" kata Rahmawati, wisatawan di Museum Bank Mandiri.
Senada dengan Rahmawati, Tulus Abadi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menilai, pemerintah tidak konsisten menerapkan larangan merokok.
"Lihat saja di kantor pemerintahan, karyawannya banyak yang merokok sembarangan. Ruang khusus merokok dibiarkan menganggur. Konsisten ke dalam dulu, lalu ke masyarakat, dan terapkan sanksi. Mungkin baru ada hasilnya," kata Tulus. (NEL/kompas.com)
Kebanyakan Ber-SMS Sebabkan Nyeri Bahu
SALING mengirim pesan lewat SMS atau chatting lewat messenger di ponsel kini telah merasuk kehidupan sebagian besar masyarakat. Saking asiknya, ada orang yang jarinya tak pernah lepas dari keypads ponselnya. Kebiasaan ini ternyata bisa menimbulkan nyeri bahu.
Menurut penelitian yang dilakukan para ahli di Amerika Serikat terhadap 138 mahasiswa ditemukan kaitan antara keluhan nyeri bahu dan kebiasaan mengetik di keypads ponsel. "Orang yang terlalu sering memencet-mencet keypads diketahui mengalami gejala musculoskeletal," kata Judith Gold, asisten profesor epidemiologi dari College of Health Professions and Social Work dari Temple University, Philadelphia, AS.
Musculoskeletal symtom merupakan rasa nyeri karena cedera yang mengenai otot, tendon, ligamen, saraf, atau pembuluh darah di leher, bahu, lengan, siku, pergelangan, dan jari tangan. Cedera bisa berupa radang dan rasa nyeri sehingga mengurangi kemampuan gerak disertai kelainan khas bagian tersebut.(kompas.com)
Menurut penelitian yang dilakukan para ahli di Amerika Serikat terhadap 138 mahasiswa ditemukan kaitan antara keluhan nyeri bahu dan kebiasaan mengetik di keypads ponsel. "Orang yang terlalu sering memencet-mencet keypads diketahui mengalami gejala musculoskeletal," kata Judith Gold, asisten profesor epidemiologi dari College of Health Professions and Social Work dari Temple University, Philadelphia, AS.
Musculoskeletal symtom merupakan rasa nyeri karena cedera yang mengenai otot, tendon, ligamen, saraf, atau pembuluh darah di leher, bahu, lengan, siku, pergelangan, dan jari tangan. Cedera bisa berupa radang dan rasa nyeri sehingga mengurangi kemampuan gerak disertai kelainan khas bagian tersebut.(kompas.com)
Stres? Hindari yang Manis dan Berlemak
JAKARTA-- Stres adalah beban yang menimpa tubuh kita dan membuat tubuh bereaksi secara darurat. Kita mengenal adanya 2 macam jenis stres. Yang pertama adalah stres fisik, misalnya kena pukul, tabrakan kendaraan, kerja otot yang melelahkan dan lain-lain. Sedangkan yang lainnya adalah stres mental atau tekanan akibat kejiwaan.
Apa pun bentuk stres, keduanya akan merangsang kelenjar adrenal, yakni satu kelenjar endokrin yang terletak menempel pada bagian atas kedua ginjal. Atas rangsangan stres ini, kelenjar adrenal akan mengeluarkan berbagai jenis hormon. Masing-masing hormon akan mempunyai efek khusus terhadap metabolisme tubuh, yang sedang mengalami keadaan kedaruratan akibat adanya beban stres tersebut.
Kelompok hormon pertama bereaksi adalah berbagai hormon yang dikenal sebagai kelompok hormon golongan kortikostreroid. Yakni hormon-hormon yang diproduksi oleh bagian korteks (bagian luar) dari kelenjar adrenal. Hormon-hormon yang termasuk golongan ini adalah kortisol, hidro-kortison, prednison dan seterusnya.
Sedangkan kelompok hormon lainnya adalah epinephrine yang diproduksi oleh bagian medulla (bagian tengah) dari kelenjar adrenal tersebut. Termasuk dalam golongan ini adalah epinephrine.
Pada stres, selain adanya peningkatan hormon-hormon dari kelenjar adrenal, juga adanya peningkatan produksi glukagon. Yakni hormon yang diproduksi oleh sel alfa kelenjar pankreas, yang berfungsi meningkatkan kadar gula darah.
Atasi Stres
Upaya mengatasi stres memang tak mudah, tapi upayakan sebisa mungkin untuk menghilangkan penyebabnya. Atau paling tidak, dapat mencari jalan keluarnya, sehingga walau faktor penyebab terjadinya stres masih ada, tetapi dampak negatifnya dapat dikurangi. Misalnya dengan meminta bantuan seorang ahli jiwa atau pun seorang psikolog.
Bilamana stres yang kita hadapi termasuk golongan pertama, yakni stres yang menimbulkan reaksi pada hormon-hormon golongan kortiko-steroid, maka peningkatan nafsu makan yang terjadi harus diimbangi dengan upaya menegakkan kebiasaan makan yang benar.
Hindari kesempatan makan jika mungkin. Pilihlah makanan yang tidak terlalu manis, bergula dan atau yang terbuat dari tepung olahan, misalnya kue-kue dan sejenisnya.
Salah satu jenis makanan yang patut dihindari adalah makanan yang terbuat dari tepung yang dijadikan adonan, kemudian digoreng atau dimasak dengan santan seperti martabak, donat, combro, risoles dan sebagainya. Hindari makanan gorengan pada umumnya atau pun makanan yang berlemak/dimasak dengan santan.
Perbanyak makan sayuran rebusan, serta buah-buahan segar. Jika ‘terpaksa’ berpesta atau makan di restoran, pakailah obat penangkal penyerapan lemak. Tidak ada jeleknya bila Anda meminta bantuan seorang dokter ahli gizi. Selamat mencoba. (kompas.com)
Apa pun bentuk stres, keduanya akan merangsang kelenjar adrenal, yakni satu kelenjar endokrin yang terletak menempel pada bagian atas kedua ginjal. Atas rangsangan stres ini, kelenjar adrenal akan mengeluarkan berbagai jenis hormon. Masing-masing hormon akan mempunyai efek khusus terhadap metabolisme tubuh, yang sedang mengalami keadaan kedaruratan akibat adanya beban stres tersebut.
Kelompok hormon pertama bereaksi adalah berbagai hormon yang dikenal sebagai kelompok hormon golongan kortikostreroid. Yakni hormon-hormon yang diproduksi oleh bagian korteks (bagian luar) dari kelenjar adrenal. Hormon-hormon yang termasuk golongan ini adalah kortisol, hidro-kortison, prednison dan seterusnya.
Sedangkan kelompok hormon lainnya adalah epinephrine yang diproduksi oleh bagian medulla (bagian tengah) dari kelenjar adrenal tersebut. Termasuk dalam golongan ini adalah epinephrine.
Pada stres, selain adanya peningkatan hormon-hormon dari kelenjar adrenal, juga adanya peningkatan produksi glukagon. Yakni hormon yang diproduksi oleh sel alfa kelenjar pankreas, yang berfungsi meningkatkan kadar gula darah.
Atasi Stres
Upaya mengatasi stres memang tak mudah, tapi upayakan sebisa mungkin untuk menghilangkan penyebabnya. Atau paling tidak, dapat mencari jalan keluarnya, sehingga walau faktor penyebab terjadinya stres masih ada, tetapi dampak negatifnya dapat dikurangi. Misalnya dengan meminta bantuan seorang ahli jiwa atau pun seorang psikolog.
Bilamana stres yang kita hadapi termasuk golongan pertama, yakni stres yang menimbulkan reaksi pada hormon-hormon golongan kortiko-steroid, maka peningkatan nafsu makan yang terjadi harus diimbangi dengan upaya menegakkan kebiasaan makan yang benar.
Hindari kesempatan makan jika mungkin. Pilihlah makanan yang tidak terlalu manis, bergula dan atau yang terbuat dari tepung olahan, misalnya kue-kue dan sejenisnya.
Salah satu jenis makanan yang patut dihindari adalah makanan yang terbuat dari tepung yang dijadikan adonan, kemudian digoreng atau dimasak dengan santan seperti martabak, donat, combro, risoles dan sebagainya. Hindari makanan gorengan pada umumnya atau pun makanan yang berlemak/dimasak dengan santan.
Perbanyak makan sayuran rebusan, serta buah-buahan segar. Jika ‘terpaksa’ berpesta atau makan di restoran, pakailah obat penangkal penyerapan lemak. Tidak ada jeleknya bila Anda meminta bantuan seorang dokter ahli gizi. Selamat mencoba. (kompas.com)
Langganan:
Postingan (Atom)